Jumat, 16 September 2016

Kisah Para Pemimpin Yang Berperang Dengan Rohani

Harsiki Kisah Para Pemimpin Yang Berperang Dengan Rohani . Sekitar abad ketiga dan keempat hijriah, ketika pemerintahan di kota Baghdad tengah mencapai kejayaanya, kekhalifahan telah bergeser menyerupai kekaisaran. Khalifah meskipun gelarnya masih amirul-mukminin (pemimpin orang-orang yang beriman) , kenyataanya adalah raja ada diraja yang kekuasaanya tidak terbatas.

Kisah Para Pemimpin Yang Berperang Dengan Rohani
Kisah Para Pemimpin Yang Berperang Dengan Rohani
Kehidupan kaum muslimin yang berhasil menempati tingkat kemakmuran harta dan benda yang mendewakan kekayaan dan kemewahan. Masyarakat terpukau dengan duniawi semata, sehingga siapa yang lebih hartawan dialah yang lebih disanjung tinggi yang mengakibatkan masyarakat hanya berkiblat pada materi , dan nilai-nilai rohanipun makin meluncur turun. Disatu sisi kebendaan telah dikuasai dan disisi lain iman serta tauhid telah meluntur sekali.

Maka tampilah sejumlah ulama yang bertekad untuk memperbaiki bencana rohani tersebut, ingin membalikan umat Islam kepada kehidupan Islami sebagaimana yang dulu dijalani pada zaman nabi Muhammad SAW, yaitu keseimbangan antara jasmani dan rohani antara kepentingan dunia dan akhirat. Merekapun menghimpung para pengikut dan orang-orang yang sependirian.

Tiap ulama mempunyai cara atau jalan masing-masing dalam upaya menanamkan jiwa ketuhanan agar meresap dan benar-benar dihayati.Cara atau jalan inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Thoriqoh atau terikat, kemudian agar syariat dapat dilaksanakan oleh para pengikutnya secara penuh dan taat. Para ulama menyelenggarakan latihan-latihan yang ketat yang akhirnya dikenal sebagai suluk.

Karena setiap ulama mencoba dengan metode yang berbeda-beda, timbulah kemudian tarikat yang berbeda pula. Semua tarikat mempunyai guru sendiri dan sang guru itulah yang dinamakan Mursyid atau syekh. Sedangkan penganut-penganutnya dijuluki dengan murid ( berasal dari kata araada yang artinya menghendaki), tempat berlatih untuk melakukan ibadah-ibadah itu diberi nama zawiyah. 

Agar persaudaraan diantara sesama anggota tarikat terjalin erat dan kesetiaan terhadap guru serta kumpulannya tidak tergoyahkan, maka dilakukan perjanjian kepada guru untuk tetap menyimpan kerahasiaan mereka. Perjanjian tersebut dilakukan dengan bai'at  atau semacam sumpah mati, hal ini perlu dilakukan lantaran pemerintah dan para penguasa pada masa itu sangat curiga tarikat-tarikat itu.

Para pelopornya saat itu adalah kebanyakan dari Persia dan Siria, tatkala pemerintah memusuhi keluarga serta para pengikut Sayidina Ali bin Abi Thalib. Sebagaimana terekam di dalam sejarah, terdapat semacam pemilahan antara bani Hasyim dengan bani Umayyah.

Bani Hasim yang didalamnya termasuk Nabi Muhammad SAW dan Ali bin Abi Thalib mempunyai pengaruh yang sangat luas karena menguasai bidang-bidang keagamaan sehingga wibawa bani Umayyah yang berjaya didunia politik dan ekonomi seolah-olah tersingkirkan. Apalagi ketika Abu Sufyan selaku pemimpin bani Umayyah menyerah tanpa syarat kepada Nabi Muhammad SAW pada masa Fathu Makkah (penaklukan Mekkah dengan damai).

Hanya saja karena kerahiman dari Nabi SAW dengan memberikan kedudukan terhormat kepada Abu Sufyan dan putranya yang bernama Muawiyah, persaingan dan kecemburuan itu dapat diredam dengan ukuwah Islamiyah.

Akan tetapi setelah Nabi Muhammad SAW wafat, timbulah kembali dendam kesumat yang sudah lama terjadi. Kedengkian mereka yang tersimpan dengan terpaksa selama dua periode yaitu pada masa kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab, mencuat lagi setelah Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah.

Kisah Para Pemimpin
Kisah Para Pemimpin
Rasa megah dan angkuh dari kaum bani Umayyah seakan terlampiaskan karena Utsman bin Affan termasuk golongan mereka. Diatas kuburan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW yang gugur dalam perang Uhud oleh tombakWashyi atas suruhan Hindun yang merupakan istri dari Abu Sufyan.

Berkatalah Abu Sufyan dengan pongah, "Hamzah, bangunlah kamu. Lihatlah, kerajaan kami yang dahulu kau perangi telah berada ddi tangan kami kembali".

Celakanya, Utsman yang berhati tulus tidak menyadari keadaan tersebut. Embusan-embusan halus yang ditiupkan Marwan bin Hakam sebagai tangan kanannya menyebabkan Utsman tidak menginsafi usaha bani Umayyah untuk menyetir kebijaksanaan pemerintahannya. Dampak hitamnya menyeret kemelut itu makin bergolak di zaman Ali bin Abi Thalib yang berakhir dengan timbulnya dua pusat pemerintahan, di Madinah dalam kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan di Damaskus di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Puncak dari kejadian itu pun terjadi pada waktu Husein dibunuh oleh kaki tangan Yazid, yang merupakan anak Muawiyah di Karbala.

Ulama-ulama Persia yang merasa tidak mampu melawan penguasa dengan kekuatan dan senjata akhirnya mulai lari ke tempat-tempat mengasingkan diri yang disebut dengan uzlah untuk bertapa atau ber khalwat. Mereka mengamalkan zikir dan wirid dalam usaha melawan kebatilan dengan kekuatan rohani.

Sejak saat itu ulama-ulama yang soleh kian menjauh dari istana para penguasa, bahkan gejala perlawanan ulama terhadap raja makin menghebat.

Itulah Kisah Para Pemimpin Yang Berperang Dengan Rohani yang menjadi kisah teladan untuk diambil hikmah kebaikannya untuk kehidupan yang lebih baik.

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search