Harsiki - Kisah Jengis Khan, Perlukah Agama Baru ? Keberaniannya berasal dari nenek moyangnya yaitu Jengis Khan.Kekejamannya merupakan watak bangsanya yang merupakan bangsa Tartar, meskipun semasa kecilnya bernama Muhammad, perangainya tidak seperti Muhammad Al Amin yang merupakan utusan Allah yang memliki sifat lembut dan penuh kasih sayang. Karenanya sang putra mahkota Kerajaan Moghul itu harus diuji terlebih dahulu, apakah dia betul-betul seorang Mongol sejati.
Dialah Jengis Khan kecil yang pada usia 13 tahun harus menjalani ritus mengerikan, membabat leher seorang tawanan yang beragama Hindu dan dia tidak ragu-ragu melakukannya. Dengan sekali hentakan, kepala orang tersebut terlepas dari badannya dan masyarakatpun ramai bersorak-sorai. Ayah dari Jengis Khan kecil itu mengelus-elus jenggot putihnya dengan bangga.
Perjalanan ke jenjang tahta kekuasaan untuk menjadi seorang pemimpin dipenuhi dengan pengalaman-pengalaman yang bertentangan dengan kebanggaan selaku Muslim, ia berharap agama adalah jalan yang damai, yang menyebarkan cinta kepada siapa saja. Ia juga menyangka dengan agama seseorang bisa berlapang dada kepada para pemeluk agama lainnya.
Akan tetapi mengapa di Hindustan selalu terjadi bentrokan-bentrokan antar agama ???, kenapa yang menonjol hanyalah perbedaan dan pertentangan dan bukan memberi maaf serta kasih sayang ?
Celakanya, Sang Maha Besar Akbar dengan gelar Muhammad semenjak menduduki kursi kesultanan Moghul pada ulang tahun kelahirannya yang ke 18 tahun meninggalkan Islam dan menyalahkan agama-agama lainnya. Ia ingin menyatukan segenap bangsa India dalam kepercayaan yang sama supaya tidak terjadi lagi bentrokan-bentrokan berdarah diantarapara pemeluk agama yang berbeda-beda.
Seperti tertuang dalam kanisah agama baru, Din Ilahi yang didirikannya di Fathpur Sikri, Akbar berharap tidak saja bangsa India akan bernaung dibawah satu keimanan, bahkan seluruh umat manusia agar terjalin kerukunan antar umat manusia.
Demikian pula tujuan dari Guru Nanak yang menciptakan agama Sikh, ia mengawinkan agama Hindu dan Islam agar orang Hindu dan orang Islam tidak perlu berpecah belah dan agar manusia tidak bercerai berai. Namun apa yang terjadi, justru agama baru tersebut menjadi sumber kebengisan lainnya yang memaksa keyakinan dengan pedang dan kebengisan.
Masalahnya sering kali manusia menduga lebih bijak ketimbang Tuhan. Dikiranya agama adalah hasil budidaya manusia semata-mata, bahwa manusia bisa bersangka-sangka dengan bebas tanpa tuhan dan manusia dapat mengatur bagaimana caranya berhubungan dengan Tuhan.
Oleh karena itu, sungguh kebodohan yang tidak termaafkan apabila mengidentikan ajaran dengan sikap penganut suatu ajaran. Kalau dalam sejarah tercatat beberapa kali pertarungan berdarah diantara sesama umat Islam, bukan berarti agamanya yang salah, melainkan manusianya yang tidak mau menjadi Muslim kafah atau Muslim yang sebenarnya.
Betapa dapat diharapkan manusia bakan menjadi pemeluk agama yang baik kalau perbuatannya dan sikap hidupnya tidak pernah sejalan dengan ajaran agamanya. Betapa Islam adalah agama yang damai dan pengasih dapat menjadi sifat penganutnya.
Semoga Kisah Jengis Khan, Perlukah Agama Baru ? bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk mengambil hikmah yang terkandung didalamnya dan akan menjadi teladan bagi kita.


Posting Komentar